"Jam Hiji Dua Puluh Salapan Menit"

Produksi ke-25 Tahun 2016

"K A L A N G S U"

Produksi ke-24 Tahun 2016.

"O R A N G A S I N G"

Resital STIA 2016

GELAR KREATIVITAS SENI MAHASISWA 2017

26 th Teater Lima Wajah.

Pementasan Drama Cucunguk

PRODUKSI Ke-23 Teater Lima Wajah.

Footer

Kamis, 17 Desember 2015

Produksi ke-24 Teater Lima Wajah pementasan drama sunda "Kalangsu"

  • Pengantar Pementasan Drama "KALANGSU"
Remaja dan permasalahannya menjadi isu yang sangat penting, kenakalan dan tindakan asusila banyak ditemukan akhir-akhir ini, fenomena kenakalan remaja makin meluas tidak hanya berupa kenakalan tetapi sudah mengarah kepada penganiayaan bahkan pembunuhan.

Kenakalan remaja, seperti sebuah lingkaran hitam yang tidak pernah putus, sambung menyambung dari waktu ke waktu, bahkan dari zaman, tahun dan bulan serta hari demi hari semakin rumit dan kompleks saja masalahnya serta telah menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat. Masalah kenakalan remaja sejalan dengan arus modernisasi dan teknologi yang semakin maju dan berkembang, terutama kota-kota besar di Indonesia.

Kecanggihan dunia teknologi yang memudahkan dalam mengakses berbagai informasi melalui berbagai media, seperti internet dan televisi ternyata di sisi lain tanpa kita sadari telah membawa suatu dampak negatif yang cukup luas di berbagai lapisan masyarakat terutama kalangan remaja. Sajian media-media tersebut yang secara mudah mereka “lahap mentah-mentah” sesukanya telah mengubah cara mereka dalam pergaulan dan juga mempengaruhi pola pikir mereka.

Kenakalan remaja bukan hanya masalah individu namun menjadi masalah semua orang, tidak pandang usia walaupun paling rentan dalam usia remaja karena masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Mencari solusi yang tepat merupakan sebuah pekerjaan besar yang melibatkan semua pihak yang harus aktif baik pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan komunitas lokal serta keluarga.

Sangat penting untuk bekerjasama semua pihak tersebut, dalam rangka memberikan alternatif aktivitas dan fasilitas yang bermanfaat diiringi dengan menjelaskan tentang dampak buruk atau konsekuensi negatif yang diakibatkan dari kenakalan remaja dan bahaya penyalahgunaan Narkoba.

Berdasarkan hasil survey data BKKBN tahun 2008, 57 persen remaja di Kota Bandung antara usia 15 - 24 tahun sudah pernah melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Melihat kondisi tersebut, kami selaku mahasiswa sebagai “agent of control” harus ikut serta dalam menanggulangi masalah tersebut.

Melalui pementasan drama Sunda “Kalangsu” oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lima Wajah Universitas Kebangsaan Bandung bekerjasama dengan melibatkan para Pelajar dikota Bandung sebagai Apresiator.

Semoga melalui kegiatan ini dapat menjadi sebuah bentuk konstribusi aktif dalam pembelajaran serta sarana alternatif aktivitas yang bermanfaat seiring dengan menjelaskan tentang dampak buruk atau konsekuensi negatif akibat dari perbuatan kenakalan yang dilakukan oleh remaja. 

  • Sinopsis 
Drama Sunda
“KALANGSU”
Naskah : Ayi G. Sasmita

Kabiasaan barudak sakola, ayeuna geus robah, kaulinan anu baheula, geus kasilih ku kamajuan teknologi, jaman “Hitec” kitu cenah barudak ayeuna mere ngaran kana jamana. Kamajuan teknologi kacida mahabuna tur gede pangaruhna dina ngarobah budaya jeung pergaulan barudak, sagala informasi ngaliwatan tontonan, bacaeun, jeung deungeun boh nu alus sumawona nu goreng. Geus teu bisa di tahan – tahan mangaruhan pola gaul barudak ayeuna, timimiti basana, cara papakeanna, cara nyaritana, jeung sakabeh tingkah polana. Aya manfaatna, tapi teu saeutik oge kagorengan alatan kamajuan teknologi, timimiti alat komunikasi (HP), tipi, nepi ka internet geus gampang pisan di akses ku saha bae, dimana bae, jeung dimana bae kalayan teuaya nu bisa nyegah dipibanda ku sagala umur, antukna loba nu jadi korban alatan salah ngagunakeunnana, gaya hirup, narkoba jeung sex bebas geus mapaes pergaulan barudak ayeuna, kusabab teu boga benteng pikeun milih antara nu hade jeung nu goreng akibat tina bebasna teknologi informasi.

PETUGAS 2 
Ancurrrr….ancur…!!! rusak generasi teh… Mau jadi apa bangsa inih? Kalau generasi muda nyah seperti kalian…. Sudah tidak punya rasa malu menonton pilem yang tidak uni… pilem yang merusak moral….!!!! Iyeu yeuh akibatna kamajuan teknologi informasi nu tidak diimbangi dengan aturan cara menggunakannya… Akibatna barudak sekarang dengan gampangnyah mengakses pilem-pilem amoral yang satuluyna mangaruahan jiwana, prilakuna, bahkan tidak saeutik nu hayang coba-coba nurutan adegan-adegan dina pilem, nu ngabalukarkeun es cendol dikalapaan….!!!

LINA 
Genep welas taun hirup, teu kungsi kapikir saeutik-eutik acan bakal kajadian jiga kieu…ceuk rarasaan mah hirup teh asa bener weh…padahal mun diimeutan, tetela geuning hirup teh geus salah lengkah…ancrub kana pergaulan anu salah, remen ngalakukeun tindakan nu ngarempak aturan, teu nurut kana omongan kolot, padahal kurang kumaha nyaahna indung jeung bapa, sagala kahayang dicumponan, sagala kabutuh ditedunan….enya bener ceuk si Mamah baheula, kaduhung mah tara datang tiheula…..

JAHILI 
Linaaaaa…..!!! hampura kuring, kuring geus nyiksa anjeun lahir batin…kuring sadar ieu panyakit hina enteup dina awak alatan supata ti jalma – jalma nu hirupna geus diruksak ku kuring….kaasup anjeun Lina….hampura kuring Linaaaaa…Kuring geus nyapirakeun hirup anjeun……. 

Pementasan dimaksud insya Allah akan diselenggarakan pada :
    • Hari / Tanggal : Jumat dan Sabtu / 15 dan 16 Januari 2016
    • Waktu            : Pukul 13.30 dan 15.30 WIB
    • Tempat           : Aula Prof.Dr.Soemitro Djojohadikoesoemo Universitas Kebangsaan
    • Alamat           : Jl.Terusan Halimun No.37 Bandung
    • HTM             : Rp. 15.000,-

Senin, 18 Juni 2012

Godi Suwarna: Maestro Puisi Sunda

Godi Suwarna adalah penyair, cerpenis, dramawan, dan novelis kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 23 Mei. Ia telah mengkoleksi lima kumpulan puisi: Jagat Alit (1978), Surat-surat Kaliwat (1984), Blues Kéré Lauk (1994), Sajak dongeng Si Ujang (1996), dan Jiwalupat; dua kumpulan cerpen Murang Maring (1982) Serat Sarwasatwa (1995); serta dua novel berjudul Sandékala (2007) dan Déng (2009). Semuanya dalam bahasa Sunda. Berbagai penghargaan sastra sudah ia peroleh. Ia tiga kali ia meraih hadiah sastra Rancage untuk Blues Kéré Lauk, Serat Sarwasatwa, dan Sandékala. “Saya sudah mendapatkan hattrick Rancage,” ujarnya. Godi meraih hadiah tahunan itu untuk tiga kategori sekaligus, puisi-cerpen-novel. Godi Suwarna adalah sejenis manusia Sunda unik, yang agaknya belum teridentifikasi dalam buku Manusia Sunda-nya Ajip Rosidi. Ia ibarat bocah bengal yang mengacak-acak “rumah” kesusastraan Sunda, tetapi tetap tidak mau beranjak dari sana.

Bertolak dari pemahaman tradisi Sunda yang terbilang kuat ia mengikrarkan sebuah kredo penolakan pada tradisi itu. Godi sangat tersiksa hidup di tengah kemapanan kehidupan sastra Sunda yang dinilainya “begitu-begitu” saja. Didukung oleh konflik psikologisnya dan keuletan pencariannya, Godi menemukan gairah untuk memberi nafas baru bagi tradisi yang melingkupinya itu. Sebuah gerakan yang sempat menggoncangkan jagat sastra Sunda, sekaligus memantapkan Godi sebagai salah satu pilarya. “Saat ini saya sedang gandrung dengan fiksimini Sunda,” tuturnya. “Ternyata gerakan ini sangat menggairahkan. Seribu orang lebih bergabung sebagai penulis, tak terhitung yang sekedar ikut membaca dan menjadi anggota. Sejak diluncurkan pada pertengahan September 2011, lebih dari 20 ribu karya sudah diposting dan ditampilkan,” sambungnya penuh semangat.


Fiksimini Sunda memang sangat fenomenal. Saat ini boleh disebut sebagai kegiatan sastra paling aktif di Indonesia yang menggunakan jasa sosial media facebook. Anda bisa melihatnya di: https://www. facebook.com/groups/fikminsunda/ atau melalui website: http://fikminsunda.com/. Godi_S-1 Godi Suwarna in action. Foto: dok. pribadi. Godi adalah penulis dengan jiwa gelisah yang terbelah. Seperti bisa dilihat dari cerpen-cerpennya yang berupa wacana tentang subyek yang membelah. Subyek yang labil terhadap konteks. Ia selalu memunculkan tokoh tipologis. Tokoh-tokoh yang hanya ia jadikan saluran untuk menumpahkan gagasan-gagasannya. Ia bertualang ke mana-mana dan bertengger di mana-mana. Namun sejatinya Godi tengah mengajak menyelam ke dalam lubuk jiwa yang tersembunyi, memperlihatkan kehidupan anak muda Sunda pada akhir abad ke-20, yang telah menampakkan serba-pengaruh, yang dunianya bukan lagi alam Priangan yang sepi tenteram.

Di satu sisi ia begitu cemas dan khawatir memandang kehidupan, pada sisi lain ia mencitakan sebuah kehidupan sastra yang beridentitas, sastra yang dalam istilah Vladimir Braginsky disebut memiliki “kesadaran-diri” sebagai bagian dari warga sastra dunia. Karena itulah ia sangat mendambakan kritik, agar ia bertambah kokoh memijak bumi. Sebagai orang Sunda ia tak mau lepas dari tradisi, tetapi sebagai manusia kiwari, ia dengan jujur dan sadar berdialektika menerima perubahan. Pada saat bertolak dari tradisi, ia pun menolaknya dengan menjungkir-balikkan pakem. Ia menerima namun juga menghendaki. Gaya pribadi paradoks, yang sebenarnya lazim saja bagi seorang pencari yang serius.

Tak heran kalau almarhum Rendra pun sempat terpukau melihat penampilan Godi dan mengatakan, "Godi adalah kekayaan sastra Sunda.” Oleh karena itu, menurut Si Burung Merak, “Orang Sunda berkewajiban memperlihatkannya ke belahan langit yang lain.” Merujuk “fatwa” Rendra itu, bolehlah dikatakan bahwa Godi Suwarna adalah salah satu sumbangan terbaik Sunda untuk khazanah sastra dunia. Tak berlebihan jika kemudian Godi mempunyai sejumlah “pengikut”. Pada dasarnya ia seorang yang sangat santun dan familiar. Rumahnya di Ciamis, sebelah selatan Jawa Barat, terbuka setiap saat menerima kunjungan para junior untuk belajar, atau teman sejawatnya yang mengadukan berbagai persoalan di kota besar, atau para ”mualaf” yang sekedar ingin mengenal khazanah sastra Sunda. Ia pun beberapa kali menjadi obyek penelitian sarjana sastra, atau wartawan media.

Godi dengan senang hati menerima mereka tanpa pernah memasang tarif. Terkadang ia sangat bijak dengan meredam emosi teman-temannya yang kerap bentrok dengan sastrawan-sastrawan tua. Selamat datang di Melbourne, Godi! (DIY)

sumber :  http://foria.co/tamu-kita/godi-suwarna-maestro-puisi-sunda.html

Jumat, 15 Juni 2012

Pementasan Drama



Pementasan Drama 

Judul : “ CUCUNGUK ”
Naskah : Yoseph Iskandar
Sutradara : Agus Sudrajat

Waktu dan Tempat Kegiatan

Hari / Tanggal : Jum’at dan Sabtu / 15,16 Juni 2012
Waktu : pukul 13.30 dan 15.30 WIB
Tempat : AULA Universitas Kebangsaan Bandung
Alamat : Jl. Terusan Halimun No.37 Bandung






Minggu, 10 Juni 2012

Menulis Naskah Teater

            Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.
          Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain / lakon dan plot atau rangka cerita.
  • Tema 
Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.
  • Lakon 
Dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :
    1. Dimensi fisiologi    ; ciri-ciri badaniusia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.
    1. Dimensi sosiologi   ; latar belakang kemasyarakatanstatus sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dll.
    1. Dimensi psikologis ; latar belakang kejiwaantemperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll. 
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.
  • Plot 
Plot adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
    1. Pemaparan (eksposisi) 
Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita.
    1. Dialog 
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.
    1. Komplikasi awal atau konflik awal 
Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
    1. Klimaks dan krisis 
Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.
    1. Penyelesaian (denouement)
Drama terdiri dari sekian adegan, dimana didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.

Program kerja yang pernah dilaksanakan

Program kerja yang pernah dilaksanakan

Program-program kerja yang telah dikasanakan dari masa pendirian Teater Lima Wajah hingga sekarang, diantaranya :

1.    Tahun 1992
a.     Mengadakan lomba baca puisi tingkat SLTA dan umum yang diikuti oleh 45 Peserta
b.     Mengisi acara dunia kampus yang diselenggarakan oleh TVRI Bandung
c.     Mengadakan diskusi di sanggar Jeihan bersama kelompok kelompok Teater Bandung.
d.     Produksi Teater Lima Wajah pertama 

2.    Tahun 1993
a.     Membuka Studi Teater tingkat SLTA
b.     Happening Art.

3.    Tahun 1994
a.     Mengikuti Jambore Teater tingkat Nasional di Jakarta .yang diikuti Oleh 23 Propinsi.
b.     Mengisi acara dunia kampus.yang diselengarakan TVRI Bandung.
c.     Megikuti Pasanggiri Drama bahasa sunda tingkat Jawa Barat.
d.     Megisi gelar teater di UNISBA
e.     Produksi II Teater Lima Wajah (Nujaradi Korban ).
f.      Produksi  III Teater Lma Wajah ( Kasir Kita ).
g.     Produksi IV Teater Lima Wajah ( OBI ) .

4.    Tahun 1995
a.     Produksi V Teater Lima Wajah (Indonesia Tergores).
b.     Mengisi Gelar Teater di LISMA UNPAS.
c.     Megadakan Lomba Baca Puisi PendidikanTingkat SLTA dan Umum Sekotamadya Bandung.

5.    Tahun 1996
a.     Membuka Studi teater tingkat SLTA dan Umum diikuti oleh 10 peserta.
b.     Produksi VI Teater Lima Wajah (Kursi Kursi).
c.     Megisi gelar teater di Lisma UNPAS
d.     Produksi VII Teater Lima Wajah ( Kursi Kursi Plus)
e.     Produksi VIII Teater Lima Wajah (Hitam Putih Kosong)
f.      Produksi IX Teater Lima Wajah ( Arwah Arwah)
g.     Produksi X Teater Lima Wajah  ( Harta )
h.     Produksi XI Teater Lima Wajah (Tamu Kita)
i.      Produksi XII teater Lima Wajah (Kursi Kursi Siang Malam ).
j.      Produksi XIII Teater Lima Wajah (Ilmu Hukum).

6.    Tahun 1997
a.     Produksi XIV Teater Lima Wajah ( RT 0 RW 0)
b.     Produksi XV Teater Lima Wajah ( Suami Istri Jam 5 pagi.)
c.     Megisi Gelar Teater di Lisma UNPAS.

7.    Tahun 1998
a.     Happening Art
b.     Megisi Acara Expo seni Pasundan yang diseleggarakan Lisma UNPAS.
c.     Menyelenggarakan Festval Teater Antar SLTA seJawa Barat. I
d.     Mengisi acara di Gedung Kesenian Taman Ismail Marzuki Jakarta .
e.     Megikuti Pasanggiri Drama Bahasa Sunda (Lamaran )

8.    Tahun 1999
a.     Produksi XVI Teater Lima Wajah (Air Mata Tanah Air.)
b.     Megisi acara di RRI bandung dalam acara “ Silaturahmi mahasiswa RIAU”.
c.     Happenig Art.
d.     Megisi acara di Inagurasi ITA.

9.    Tahun 2000
a.     Mengisi acara di Hari Lingkungan sedunia yang diadakan oleh HMTL ITA
b.     Produksi XVII Teater Lima Wajah ( Jika Alam Boleh Bicara )
c.     Happening Art.
d.     Menyelenggarakan Festival Teater Antar SLTA Se-Jawa Barat ke II.
e.     Mengisi Acara di Expo seni Pasundan yang diadakan di Lisma UNPAS.
f.      Mengisi acara di Expo Ita.

10. Tahun 2001
a.     Mengisi acara di Lises Citra Resmi UNWIM Tanjung Sari Sumedang .
b.     Mengisi Acara Gelar Teater yang diadakan lisma UNPAS (Produksi XVIII naskah :BOROK)
c.     Mengisi acara di Milad STUBA-UNISBA (Naskah : Hitam Putih)
d.     Mengundang teater Hijau Lima Satu UPN Vetreran Jakarta dan Teater DIKARI STSI Bandung untuk menggelar Pementasan diKampus ITA.

11. Tahun 2002
  1. Menyelenggarakan Gelar Monolog
  2. Happening Art
  3. Menyelenggarakan Festival Teater Antar SLTA Se-Jawa Barat ke III
  4. Produksi XIX Teater Lima Wajah (Tapak)
  5. Menyelenggarakan Pagelaran Seni Tradisi “Benjang” di lapangan Gasibu Bandung.
  6. Pagelaran bersama FOKALISMAS (Forum Komunikasi Lingkung Seni Mahasiswa Sunda)
  7. Pementasan Teater dalam acara Indonesia Menggugat
12. Tahun 2003
  1. Membuka Studi Teater Lima Wajah diikuti oleh 18 peserta.
  2. Menyelenggarakan Pagelaran Seni Tradisi “Seni Terbang” di Kampus Universitas Kebangsaan.
  3. Menyelenggarakan Workshop Kebudayaan dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Jawa Barat di AULA UK.
  4. Produksi XX Teater Lima Wajah (Ruang Tunggu).
  5. Mengikuti Pagelaran bersama FOKALISMAS II di Gedung RRI Bandung dan Monumen Perjuangan Jawa Barat.
13. Tahun 2004
  1. Happening Art
  2. Menyelenggarakan Festival Teater Antar SLTA Se-Jawa Barat ke IV.
  3. Produksi XXI Teater Lima Wajah (Episode Waktu)
  4. Mengisi Acara Parade Teater yang diadakan oleh Teater LENTERA Universitas Djuanda Bogor.
  5. Pendokumentasian Seni Tradisi “ Seni Terbang” di padepokan Seni Terbang Majalengka.
  6. Mengikuti Pagelaran bersama FOKALISMAS III di Bogor.
14. Tahun 2005
  1. Produksi XXII Teater Lima Wajah (Rumahku Nerakaku) bekerjasama dengan Teater Bumi SMA Muslimin I Bandung.
  2. Pementasan Teater Rumahku Nerakaku di GK. Rumentang Siang Bandung dalam rangka mengisi acara Milad Laskar Panggung.
  3. Pementasan Teater Rumahku Nerakaku di AULA Kampus UPI Bandung.
  4. Pementasan Teater Rumahku Nerakaku di AULA Sekolah SMA Muslimin I Bandung.
15. Tahun 2006
  1. Mengikuti Pagelaran bersama FOKALISMAS IV di Cirebon.


Program Kerja Teater Lima Wajah Tahun 2012


Program Kerja Teater Lima Wajah Tahun 2012.

Program kerja Teater Lima Wajah periode kepengurusan tahun 2012 adalah sebagai berikut :

1.      Milad Teater Lima Wajah ke 21 Tahun.
  • Diselenggarakan pada 5 Mei 2012.

2.      Lomba Baca Puisi tingkat SLTA se-Kota Bandung.
  • Diselenggarakan pada bulan Juni 2012.

3.        Produksi XXIII
  • Dilaksanakan pada bulan Juni 2012.

4.      Kubukakalbuku
  • Dilaksanakan pada bulan Juli 2012.

5.      Aksi diri
  • Dilaksanakan setiap satu bulan sekali

6.      Gelar Pentas Monolog.
  • Dilaksanakan pada bulan Oktober 2012.

7.      Musyawah Besar Anggota. 
  • Dilaksanakan pada bulan November 2012.

Perbedaan Teater dengan Drama


BEBERAPA PENGERTIAN
Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan.

ARTI DRAMA
Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar.
Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan  kehendak dengan action.
Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.
Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).

ARTI TEATER
Ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage). Secara Etimologi (asal kata), Teater Adalah Gedung Pertunjukan (auditorium).
Dalam arti luas Teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak. Misalnya Wayang Orang, Ludruk, Lenong, Reog, Sulapan.
Dalam arti sempit Teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layer); Didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik.

APA PERBEDAAN DRAMA DENGAN TEATER
Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda uangkapannya.Teater berasal dari kata yunanikuno "theatron" yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata yunanai 'dran' yang berarti berbuat, berlaku atau beracting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Didalam seni sastra, drama setaraf denagn jenis puisi, prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat kesuatu pentas sebagai suatau bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa Teater. Kesimpulan teater tercipta karena adanya drama.


DAFTAR PUSTAKA

Hamzah Adjib A., Pengantar Bermain Drama, CV Rosda, Bandung.
Noer C. Arifin, Teater Tanpa Masa Silam, DKJ, Jakarta, 2005.
Iman Sholeh & Rik Rik El Saptaria, Module Workshop Keaktoran Festamasio 3, TGM, Yogyakarta, 2005.