"Jam Hiji Dua Puluh Salapan Menit"

Produksi ke-25 Tahun 2016

"K A L A N G S U"

Produksi ke-24 Tahun 2016.

"O R A N G A S I N G"

Resital STIA 2016

GELAR KREATIVITAS SENI MAHASISWA 2017

26 th Teater Lima Wajah.

Pementasan Drama Cucunguk

PRODUKSI Ke-23 Teater Lima Wajah.

Footer

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

Menulis Naskah Teater

            Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.
          Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain / lakon dan plot atau rangka cerita.
  • Tema 
Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.
  • Lakon 
Dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :
    1. Dimensi fisiologi    ; ciri-ciri badaniusia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.
    1. Dimensi sosiologi   ; latar belakang kemasyarakatanstatus sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dll.
    1. Dimensi psikologis ; latar belakang kejiwaantemperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll. 
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.
  • Plot 
Plot adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
    1. Pemaparan (eksposisi) 
Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita.
    1. Dialog 
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.
    1. Komplikasi awal atau konflik awal 
Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
    1. Klimaks dan krisis 
Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.
    1. Penyelesaian (denouement)
Drama terdiri dari sekian adegan, dimana didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.

Perbedaan Teater dengan Drama


BEBERAPA PENGERTIAN
Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan.

ARTI DRAMA
Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar.
Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan  kehendak dengan action.
Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.
Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).

ARTI TEATER
Ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage). Secara Etimologi (asal kata), Teater Adalah Gedung Pertunjukan (auditorium).
Dalam arti luas Teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak. Misalnya Wayang Orang, Ludruk, Lenong, Reog, Sulapan.
Dalam arti sempit Teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layer); Didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik.

APA PERBEDAAN DRAMA DENGAN TEATER
Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda uangkapannya.Teater berasal dari kata yunanikuno "theatron" yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata yunanai 'dran' yang berarti berbuat, berlaku atau beracting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Didalam seni sastra, drama setaraf denagn jenis puisi, prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat kesuatu pentas sebagai suatau bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa Teater. Kesimpulan teater tercipta karena adanya drama.


DAFTAR PUSTAKA

Hamzah Adjib A., Pengantar Bermain Drama, CV Rosda, Bandung.
Noer C. Arifin, Teater Tanpa Masa Silam, DKJ, Jakarta, 2005.
Iman Sholeh & Rik Rik El Saptaria, Module Workshop Keaktoran Festamasio 3, TGM, Yogyakarta, 2005.

Sabtu, 09 Juni 2012

Eksistensi Komunitas Teater

EKSISTENSI komunitas teater di mana pun mampu bertahan bukan hanya bermodalkan semangat kebersamaan, senasib sepenanggungan, hingga ke soal finansial. Kekuatannya lebih pada semangat dan ikatan emosional terhadap komunitas yang tumbuh dalam diri anggota karena panggilan batin.

"Tanpa dukungan spirit emosional dalam diri masing-masing akan seni peran, tidak mungkin suatu komunitas teater dapat bertahan lama. Tentunya semangat kebersamaan dan finansial juga memberikan andil," ujar Agus Safari, salah seorang dramaturg Laskar Panggung Bandung.

Kehadiran komunitas teater di Kota Bandung ataupun kota besar lainnya, tidak terlepas dari keberadaan komunitas teater kampus, sekolahan maupun independen. Komunitas teater ini pula yang kini berkembang dan tumbuh subur di Kota Bandung, geliatnya tengah kembali terjadi. Ini dibuktikan dengan kehadiran 74 komunitas teater dalam Festival Drama Basa Sunda X yang digelar Teater Sunda Kiwari, sejak 11 hingga 29 Februari 2008 di Gedung Kesenian Rumentang Siang Jln. Baranangsiang No. 1 Bandung.

Namun untuk tetap eksis, menurut Agus, bukanlah suatu perkara gampang. "Permasalahannya memang sangat kompleks. Selain dari sulitnya mencari sponsor untuk sebuah garapan, teater kampus atau sekolah juga masih ada yang menganggap kurang profesional," ujar Agus.

Padahal lepas dari itu semua, seharusnya tidak ada dikotomi dan pengotakan tentang keberadaan teater kampus, sekolah, dan independen. Karena pada dasarnya semua komunitas teater sama yakni untuk berproses, hanya saja permasalahannya mungkin terletak pada pandangan komunitas teater kampus dan sekolah masih selalu berbenturan dengan kegiatan perkuliahan, mata pelajaran, serta jadwal latihan.
Sangat berbeda dengan komunitas teater independen yang dinilai lebih terfokus untuk waktu sebuah garapan. Menurut Rosyid E. Abby, yang kini senantiasa membina kematangan anak-anak di komunitas teater sekolah, keberadaan teater kampus dan sekolah jarang menjadi sorotan publik penikmat seni teater. Kemunculannya kadang dikucilkan, hal itu pula yang sulit untuk dihilangkan dari pandangan sebagian masyarakat kita.

Jangan heran kalau terkadang komunitas teater kampus atau sekolah di Indonesia sulit untuk muncul. Kalaupun mampu tampil, hanya di kalangan intern (kampus atau sekolah). Namun demikian, hal tersebut tidak menjadikan mereka patah arang. "Proses adalah bagian yang tetap harus dijalani meskipun hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Hal tersebut terbukti di sejumlah perguruan tinggi dan sekolah tingkat SMA, pamor komunitas teater tengah kembali bangkit dan menjauh dari ambang kepunahan," ujar Rosyid.

Menyikapi hal tersebut, maka perlu adanya suatu pemulihan terhadap kondisi tersebut, salah satunya dengan kegiatan rutin (festival) sebagaimana yang digelar Teater Sunda Kiwari. "Ya, jangan sampai teater kampus atau sekolah dianggap jago kandang, yang hanya bisa main di kampus atau sekolah sendiri, jangan sampai pamornya meredup dan hanya dikenal di kalangan terbatas," ujar Rosyid yang beberapa kali bersama Komunitas Teater Senapati (Seni nu Aya di Pasundan Tilu) menggelar "Kasidah Cinta Jalma-jalma nu Iman".

Tidak jauh berbeda, seperti halnya komunitas teater rakyat, disadari atau tidak, persaingan di komunitas teater kampus maupun sekolah dan independen terus dan akan terjadi. Dunia panggung kadang dijadikan eksploitasi untuk sekadar mencari keuntungan belaka bagi sebagian pihak tertentu. Namun, komunitas teater kampus atau sekolah umumnya tidak bisa mendapatkan sponsor untuk pementasannya. Oleh karena itu, setiap pemain terpaksa merogoh isi saku masing-masing untuk biaya produksi.

Kesulitan seperti mendapatkan sponsor untuk sebuah pementasan bagi teater kampus maupun sekolah merupakan salah satu yang menjadi sebab sulitnya mereka muncul ke permukaan dan dikenal. Hal ini tentunya bisa mematikan semangat berproses. Bagi sebagian komunitas, hal ini tentunya akan diminimalkan dengan mengeluarkan isi saku pribadi. Namun, perlahan-lahan solusi seperti ini pun akan mengalami kemandekan.

Namun, Lukman Sare dari Komunitas Teater Salapan berpendapat kesulitan biaya produksi pementasan jangan dijadikan alasan untuk matinya sebuah kreativitas.

Contoh yang sangat membuat siapa pun terenyuh adalah semangat rekan-rekan di Komunitas Teater Palagan yang semua anggotanya tunanetra. Mereka berdaya upaya untuk menekuni komunitas teater meski memiliki keterbatasan finansial maupun pancaindera.

Komunitas teater dengan keteaterannya menurut Agus Safari, adalah permainan karena konsep yang dianut adalah teater bebas. "Karena bebas, ia tak akan punya batas. Karena tak punya batas, ia akan bebas. Bebas berdekonstruksi, bebas berekspresi, bebas bereksplorasi, bebas bereksperimentasi, bebas berorientasi, dan bebas berideologi. Namun, tidak bebas berargumentasi. Oleh karena itu, dalam membangun komunitas pun harus mampu melewati pembatas," ujar Agus.

Dalam komunitas teater yang utama adalah keriangan sehingga akan lahir ketulusan yang mengalir terus-menerus tanpa kepura-puraan atau artifisial.